Pengertian dan Ciri Pantun Dalam Kamus Ilmiah “Lengkap”

Diposting pada

ciri-pantun

ayoksinau.teknosentrik.com – Mengetahui secara benar tentang apa itu Pengertian Pantun yang sebenarnya adalah langkah utama ketika seseorang ingin menciptakan sebuah pantun. Hal ini dimaksudkan agar seseorang tidak salah merangkai bait demi bait dalam sebuah pantun karyanya dikarenakan penyusunan sebuah pantun harus berdasarkan prosedur dan tata aturan yang berlaku.

Dengan mengetahui pengertiannya secara benar dan tepat barulah seseorang bisa menciptakan sebuah karya pantun dengan benar. Selain pengertian sebuah pantun juga memilki ciri-ciri dan beberapa kategori jenis pantun yang berlaku. berikut adalah penjelasan lebih detail tentang sebuah pantun.

Pengertian Pantun Secara Ilmiah

Pantun adalah karya tulis berupa ungkapan perasaan dan pikiran serta sebuah nasehat yang dituangkan dalam  susunan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa hingga menjadi sebuah kalimat yang sangat menarik untuk didengar. Penyusunan sebuah pantun harus didasarkan dari ungkapan hati agar pantun itu terdengar indah dan terkesan.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pantun Agama Beserta Maknanya

Sejarah Pantun

Pada mulanya pantun merupakan senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan (Fang, 1993: 195). Pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat popular yang sezaman dan  disisipkan dalam syair-syair seperti Syair Ken Tambuhan. Pantun dianggap sebagai bentuk karma dari kata Jawa Parik yang berarti pari, artinya paribahasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka yang berasal dari India. Dr. R. Brandstetter mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar kata tun, yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnya dalam bahasa Pampanga, tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton yang berarti bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang berarti benang atau atuntun yang berarti teratur dan matuntun yang berarti memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun yang berarti kesopanan, kehormatan.

Van Ophuysen dalam Hamidy (1983: 69) menduga pantun itu berasal dari bahasa daun-daun, setelah dia melihat ende-ende Mandailing dengan mempergunakan daun-daun untuk menulis surat-menyurat dalam percintaan. Menurut kebiasaan orang Melayu di Sibolga dijumpainya kebiasaan seorang suami memberikan ikan belanak kepada istrinya, dengan harapan agar istrinya itu beranak. Sedangkan R. J. Wilkinson dan R. O. Winsted dalam Hamidy (1983:69) menyatakan keberatan mengenai asal mula pantun seperti dugaan Ophuysen itu. Dalam bukunya “Malay Literature” pertama terbit tahun 1907, Wilkinson malah balik bertanya, ‘tidakkah hal itu harus dianggap sebaliknya?’. Jadi bukan pantun yang berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang berasal dari pantun.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Contoh Pantun Cinta Paling Lucu Dan Romantis


Ciri-ciri Pantun

Abdul Rani (2006:23) mengatakan bahwa ciri-ciri pantun sebagai berikut:

  1. Terdiri atas empat baris.
  2. Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata.
  3. Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya berisi maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.
  4. Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad /ab-ab/. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.

Lain halnya menurut Harun Mat Piah (1989: 123-124) dalam Bahan Ajar Sastra Rakyat (Elmustian, tanpa tahun:70-71), membagikan ciri-ciri pantun menjadi dua aspek, yaitu aspek luaran dan dalaman. Aspek luaran adalah dari segi struktur dan ciri-ciri visual yaitu:

  1. Terdiri dari rangkap-rangkap yang berasingan. Setiap rangkap terjadi dari baris-baris yang sejajar dan berpasangan seperti 2,4,6,8 dan seterusnya. Rangkap yang paling umum adalah empat baris.
  2. Setiap baris mengandung empat kata dasar, dengan jumlah suku kata antara 8 hingga 10.
  3. Adanya klimaks yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada kuplet maksud.
  4. Setiap stanza terbagi kepada dua unit yaitu pembayang dan maksud.
  5. Mempunyai skema rima ujung yang tetap: a-ba-b, dengan sedikit variasi a-a-a-a.
  6. Setiap stanza pantun adalah satu keseluruhan mengandung sifat fikiran yang bulat dan lengkap.

Ciri-ciri dalamannya adalah:

  • Penggunaan lambang-lambang tertentu mengikuti tanggapan dan pandangan dunia masyarakat.
  • Adanya perhubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud, sama ada secara kongkrit atau abstrak atau melalui lambang-lambang.

Sedangkan menurut Suroto (1989: 43), ciri-ciri pantun sebagai berikut:

  1. Pantun tersusun atas empat baris dalam tiap baitnya.
  2. Baris pertama dan baris kedua berupa sampiran.
  3. Baris ketiga dan keempat merupakan isi/ maksud yang hendak disampaikan.
  4. Jumlah suku kata dalam tiap baitnya rata-rata berkisar delapan sampai dua belas.

Dalam pantun selalu ada dua dimensi yaitu pertama yang disebut sampiran. Konvensi mengatakan bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh dengan sampiran. Sampiran semata-mata diciptakan sebagai pengantar menuju isi yang sebenarnya dalam dua larik berikutnya. Bila kita berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia hal yang sama ditegaskan lagi di sana ketika tentang sampiran dikatakannya sebagai berikut: “Paruh pertama pada pantun, yaitu baris kesatu dan kedua berupa kalimat-kalimat yang biasanya hanya merupakan persediaan bunyi kata untuk disamakan dengan bunyi kata pada isi pantun (biasanya kalimat-kalimat pada sampiran tak ada hubungan makna dengan kalimat-kalimat pada bagian isi)”.

Setelah mengetahui Pengertian Pantun maka Anda juga perlu mengetahui tentang bagaimana ciri-ciri yang ada dalam sebuah pantun tersebut. Sebuah karya tulis pastilah mempunyai aturan tertentu dalam penyusunannya tidak lain halnya dengan sebuah pantun. Penyusunan sebuah pantun juga memiliki aturan tertentu dan seseorang tidak bisa asal dalam menciptakan sebuah pantun tersebut. Dalam sebuah pantun ada yang dinamakan bait, dalam satu bait pantun harus terdiri dari empat baris. Jika dalam satu bait terdiri melebihi empat baris maka sudah menyalahi aturan pembuatan pantun yang berlaku. Kemudian dalam sebuah  baris terdiri suku-suku kata yang jumlahnya juga ditentukan.

Sebuah baris pantun terdiri dari suku-suku kata yang jumlahnya harus di antara delapan sampai dua belas suku kata. Suku kata yang kurang dari delapan atau lebih dari dua belas dari setiap barisnya sudah menyalahi dari aturan pembuatan pantun yang kedua. Selanjutnya sebuah pantun memiliki sebuah sajak a-b-a-b, yang dimaksudkan disini adalah pada akhiran huruf vocal dari setiap barisnya. Baris pertama berpasangan dengan baris ketiga sedangkan baris kedua berpasangan dengan baris ke empat.

Artinya jika pada baris pertama pada akhiran kalimatnya menggunakan huruf vokal a maka pada baris ketiga pada akhiran kalimatnya juga menggunakan huruf vokal a. Jika pada baris pertama akhiran kalimatnya menggunakan huruf vokal i maka pada baris ketika akhiran kalimatnya juga menggunakan huruf vokal I dan begitu seterusnya.

Sama halnya dalam pasangan baris kedua dan baris ke-empat yaitu jika pada baris kedua memiliki akhiran vokal huruf a maka pada baris ke empat juga akhir kalimatnya juga menggunakan huruf vokal a juga dan seperti itu seterusnya. Hal ini berlaku dalam sebuah bait pantun yang terdiri dari empat baris yang telah dijelaskan di atas. Setelah mengetahui tata cara pembuatan pantun mulai dari Pengertian Pantun itu seperti apa hingga ciri-ciri dari sebuah pantun tentu Anda akan lebih mudah dalam penyusunan pantun ciptaan Anda sendiri. Kini untaian demi untaian perasaan yang diungkapkan dengan sebuah pantun akan terdengar lebih indah dan menarik untuk didengar.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian dan Ciri Pantun Teka-Teki beserta Contohnya


Syarat-syarat Pantun

Menurut Effendy (1983:28), syarat-syarat dalam pantun adalah:

  1. Tiap bait terdiri dari empat baris
  2. Tiap baris terdiri dari empat atau lima kata atau terdiri dari delapan atau sepuluh suku kata
  3. Sajaknya bersilih dua-dua: a-b-a-b. dapat juga bersajak a-a-a-a.
  4. Sajaknya dapat berupa sajak paruh atau sajak penuh
  5. Dua baris pertama tanpa isi disebut sampiran, dua baris terakhir merupakan isi dari pantun itu.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian dan Jenis Pantun Beserta Menurut Para Ahli


Jenis-jenis Pantun

Suroto (1989:44-45) membagi pantun menjadi dua bagian yaitu:
1. Menurut isinya:

  • Pantun anak-anak, biasanya berisi permainan.
  • Pantun muda mudi, biasanya berisi percintaan.
  • Pantun orang tua, biasanya berisi nasihat atau petuah. Itulah sebabnya, pantun ini disebut juga pantun nasihat.
  • Pantun jenaka, biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar.
  • Pantun teka-teki

2. Menurut bentuknya atau susunannya:

  • Pantun Berkait, yaitu pantun yang selalu berkaitan antara bait satu dengan bait kedua, bait kedua dengan bait ketiga dan seterusnya. Adapun susunan kaitannya adalah baris kedua bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada bait kedua dan seterusnya.
  • Pantun Kilat, sering disebut juga karmina, ialah pantun yang terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampiran sedang baris kedua merupakan isi. Sebenarnya asal mula pantun ini juga terdiri atas empat baris, tetapi karena barisnya pendek-pendek maka seolah-olah kedua baris pertama diucapkan sebagai sebuah kalimat, demikian pula kedua baris yang terakhir.

Sedangkan Nursisto, dalam bukunya ikhtisar Kesusastraan Indonesia (2000:11-14) pantun dibagi menjadi:

1. Berdasarkan isinya, pantun dibagi atas:

a. Pantun kanak-kanak

  • Pantun bersukacita
  • Pantun berdukacita

b. Pantun muda

  • Pantun nasib atau pantun dagang
  • Pantun perhubungan
    ? Pantun perkenalan
    ? Pantun berkasih-kasihan
    ? Pantun perceraian
    ? Pantun beriba hati
  • Pantun jenaka
  • Pantun teka-teki

c. Pantun tua

  • Pantun adat
  • Pantun agama
  • Pantun nasihat

2. Berdasarkan banyaknya baris tiap bait dibagi menjadi:

  • Pantun dua seuntai atau pantun kilat
  • Pantun empat seuntai atau pantun empat serangkum
  • Pantun enam seuntai atau delapan seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan serangkum (talibun).

Menurut Effendi (1983:29), pantun dapat dibagi menurut jenis dan isinya yaitu:

1. Pantun anak-anak, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

  • Pantun bersukacita
  • Pantun berdukacita
  • Pantun jenaka atau pantun teka-teki

2. Pantun orang muda, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

  • Pantun dagang atau pantun nasib
  • Pantun perkenalan
  • Pantun berkasih-kasihan
  • Pantun perceraian
  • Pantun beribahati

3. Pantun orang tua, berdasarkan isinya data dibedakan menjadi:

  • Pantun nasihat
  • Pantun adat
  • Pantun agama

Tetapi, Abdul Rani (2006:23-27) mengklasifikasikan pantun berdasarkan isinya sebagai berikut:

  1. Pantun Anak-Anak
    a. Pantun anak-anak jenaka
    b. Pantun anak kedukaan
    c. Pantun anak teka-teki
  2. Pantun Muda-Mudi
    a. Pantun muda mudi kejenakaan
    b. Pantun muda-mudi dagang
    c. Pantun muda-mudi cinta kasih
    d. Pantun muda-mudi ejekan
  3. Pantun Tua
    a. Pantun tua kiasan
    b. Pantun tua nasihat
    c. Pantun tua adat
    d. Pantun tua agama
    e. Pantun tua dagang

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Pantun Nasehat dan Contohnya


Contoh Pantun

  1. Pantun Muda Mudi
    Tanam melati di rama-rama
    Ubur-ubur sampingan dua
    Sehidup semati kita bersama
    Satu kubur kelak berdua
  2. Pantun Teka-Teki
    Kalau puan puan perana
    Ambil gelas di dalam peti
    Kalaup uan bijak laksana
    Binatang apa tanduk di kaki
  3. Pantun Jenaka
    Anak rusa di rumpun salak
    Patah tanduknya ditimpa genta
    Riuh kerbau tergelak-gelak
    Melihat beruk berkacamata
  4. Pantun Berdukacita
    Ke balai membawa labu
    Labu amanat dari situnggal
    Orang memakai baju baru
    Hamba menjerumat baju bertambal
  5. Pantun Perkenalan
    Sekuntum bunga dalam padi
    Ambil batang cabut uratnya
    Tuan sepantun langit setinggi
    Bolehkah berlindung di bawahnya?
  6. Pantun Perceraian
    Pucuk pauh selara pauh
    Pandan di rimba diladungkan
    Adik jauh kakanda jauh
    Kalau rindu sama menungkan
  7. Pantun Nasib atau Pantun Dagang
    Unggas undan si raja burung
    Terbang ke desa suka menanti
    Wahai badan apalah untung
    Senantiaa bersusah hati
  8. Pantun Orang Tua
    Asam kandis asam gelugur
    Kedua asam riang-riang
    Menangis mayat di pintu kubur
    Teringat badan tidak sembahyang
  9. Pantun Pengiring Lagu
    Ayam jago jangan diadu
    Kalau diadu jenggernya merah
    Baju ijo jangan diganggu
    Kalau diganggu yang punya marah
    Jalan-jalan ke kota Paris
    Lihat gedung berbaris-baris
    Saya cinta sama si kumis
    Orangnya ganteng sangat romantis

Daftar Pustaka

  • Abdul Rani, Supratman. 2006. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
  • Djoko Damono Sapardi. Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004
  • Effendy, M. Ruslan. 1983. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
  • Gawa John. Kebijakan dalam 1001 Pantun. Jakarta: Buku Kompas. 2007
  • Hamzah, Amir. 1996. Esai dan Prosa. Jakarta: Dian Rakyat.
  • Laelasari dan Nurlailah.2006. Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia.
  • Mafrukhi, dkk. Kompetensi Berbahasa Indonesia Jilid 3. Jakarta: Erlangga. 2006
  • Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. Tanpa tahun. Bahan Ajar Mata Kuliah Sastra Rakyat. Pekanbaru: Labor Bahasa, Sastra, dan Jurnalistik Universitas Riau.
  • Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. 2005. Bahan Ajar Teori Sastra. Pekanbaru: Labor Bahasa, dan Jurnalistik Universitas Riau.
  • Rosidi Ajip. Kapankah Kesusteraan Indonesia Lahir?. Jakarta: Gunung Agung. 1983
  • Surana. 2001. Pengantar Sastra Indonesia. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
  • Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.
  • Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
  • Widjoko dan Endang Hidayat Teori dan Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: UPI PRESS. 2007